‎KATINGAN – Kelas Digital Huma Betang yang merupakan Inovasi digitalisasi pendidikan mulai memberikan solusi nyata bagi sekolah di wilayah pedalaman Kalimantan Tengah. SMAN 1 Katingan Hulu mulai menerapkan kelas hybrid untuk mata pelajaran Biologi, yang dilaksanakan mulai hari ini dan dijadwalkan berlangsung hingga November mendatang.


‎Kelas hybrid tersebut menjadi solusi untuk memastikan pembelajaran tetap berjalan meski guru Biologi di SMAN 1 Katingan Hulu sedang menjalani cuti melahirkan selama tiga bulan. Kondisi ini sebelumnya berpotensi membuat kelas kosong atau harus diampu oleh guru yang tidak sesuai dengan bidang keahliannya.

‎Kepala SMAN 1 Katingan Hulu, Dina Fahdiani, menyampaikan bahwa penerapan kelas hybrid tersebut dari inovasi Kelas Digital Huma Betang yang digagas Kepala Dinas Pendidikan Kalteng Muhammad Reza Prabowo. Menurutnya, inovasi tersebut membuka alternatif pembelajaran yang sebelumnya tidak terpikirkan untuk menghadapi keterbatasan guru mata pelajaran di wilayah pedalaman.

‎“Hal yang sebelumnya tidak terpikirkan dan belum pernah kami lakukan ketika menghadapi kondisi seperti ini, yaitu guru yang cuti melahirkan selama tiga bulan sehingga kelas berpotensi kosong atau harus diampu oleh guru yang bukan bidangnya, karena di pedalaman rata-rata guru mata pelajaran hanya satu saja,” ujar Dina, Rabu (16/9/2026).

‎Pertemuan perdana kelas hybrid Biologi tersebut menghadirkan guru Biologi dari SMAN 1 Marikit, Mukadimah Putri. Proses pembelajaran berlangsung dengan baik dan mendapat respons positif dari murid. Materi disampaikan secara menarik, kemudian dilanjutkan dengan diskusi serta praktik sederhana yang nyata dan kontekstual.

‎Dina mengatakan, kendala teknis yang muncul selama pelaksanaan akan terus dipantau dan dievaluasi. Pihak sekolah juga akan berkoordinasi dengan Bidang SMA Dinas Pendidikan Kalteng untuk memastikan setiap kendala dapat segera mendapatkan solusi praktis.


‎‎“Alhamdulillah, pertemuan pertama berlangsung dengan sangat baik dan berkesan bagi anak-anak. Materi disampaikan dengan menarik, dilanjutkan dengan diskusi serta praktik sederhana yang nyata dan kontekstual,” ungkapnya.

‎Menurut Dina, langkah tersebut bukan sekadar solusi atas keterbatasan guru, tetapi juga bagian dari ikhtiar menghadirkan pembelajaran yang layak, adil, dan merata bagi murid di wilayah pedalaman. Kehadiran teknologi melalui Kelas Digital Huma Betang diharapkan semakin memperluas akses murid terhadap pembelajaran berkualitas tanpa terhambat oleh keterbatasan geografis dan ketersediaan tenaga pendidik.

(Rzn/Foto: Media Disdik)