PULANG PISAU – Semangat inklusivitas dan pelestarian budaya lokal kembali digaungkan melalui ajang Lomba Tari Tradisional Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) 2026 yang mengangkat tema Berakar Pada Budaya, Bertumbuh Dalam Kreasi Penuh Semangat Huma Betang. Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi sekaligus panggung prestasi bagi anak-anak istimewa dari berbagai daerah.
Ajang bergengsi ini diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bekerja sama dengan Kemilau Mutiara Ananda dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Selain sebagai kompetisi, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk menanamkan nilai-nilai filosofi Huma Betang yang menjunjung tinggi kebersamaan, toleransi, dan inklusivitas dalam kehidupan bermasyarakat.
Peserta lomba berasal dari berbagai kategori anak berkebutuhan khusus, mulai dari tunarungu, tunagrahita, autisme, hingga down syndrome, dengan rentang usia 12 hingga 17 tahun. Melalui tema Kemilau Mutiara Ananda, setiap peserta didorong untuk menampilkan potensi terbaiknya dalam seni tari tradisional yang sarat makna budaya.
Salah satu sekolah yang turut ambil bagian adalah SKHN 1 Pulang Pisau. Sekolah ini mengirimkan tiga peserta yang seluruhnya merupakan siswa tunarungu. Persiapan telah dilakukan secara intensif selama dua minggu terakhir dengan pendampingan guru, menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.


Pengawas sekolah, Made Pujangga, mengungkapkan bahwa hasil monitoring yang dilakukan bersama kepala sekolah Masciani menunjukkan kesiapan peserta yang semakin matang. Ia menilai latihan yang dilakukan sudah berjalan baik, terutama dalam membangun kekompakan gerakan dan penghayatan terhadap tarian yang akan ditampilkan.
“Persiapan sudah cukup bagus. Kami melihat langsung proses latihan mereka, dan perkembangan anak-anak ini sangat menggembirakan. Dengan durasi karya sekitar 5 sampai 7 menit, mereka sudah mulai percaya diri untuk tampil,” ujarnya, Senin (13/4/2026).
Rencananya, para peserta akan tampil dalam kegiatan yang digelar pada 7 hingga 9 Mei 2026 di Aula Gedung Hotel Dandang Tingang, Palangka Raya. Selain penampilan utama, seluruh peserta juga diwajibkan mengikuti parade tari pada pembukaan dengan mengenakan busana etnik khas Kalimantan Tengah.
Menurut Made Pujangga, filosofi Huma Betang benar-benar menjadi roh dalam kegiatan ini. Ia menekankan bahwa setiap anak memiliki cahaya dan keunikan tersendiri yang patut diapresiasi.


“Ini adalah bentuk nyata bahwa setiap anak adalah bintang yang bersinar dengan cahayanya masing-masing. Melalui seni tari, mereka mengekspresikan diri sekaligus melestarikan budaya leluhur,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia juga menyampaikan bahwa seluruh kebutuhan peserta, mulai dari akomodasi hingga fasilitas selama kegiatan, akan ditanggung oleh panitia. Dari total undangan, terdapat sekitar 14 Sekolah Khusus Negeri di Kalimantan Tengah yang akan berpartisipasi dalam ajang tersebut, termasuk SKHN 1 Pulang Pisau.
Made Pujangga pun mengapresiasi dukungan dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, khususnya melalui berbagai fasilitas penunjang pembelajaran seperti TV interaktif yang dinilai sangat membantu dalam proses latihan.
“Saya sangat mengapresiasi apa yang sudah dipersiapkan oleh SKHN 1 Pulang Pisau. Terima kasih kepada Bapak Gubernur H. Agustiar Sabran dan Bapak Kadisdik Kalteng Muhammad Reza Prabowo beserta jajaran yang telah memberikan fasilitas, termasuk TV interaktif, sehingga anak-anak lebih mudah mengekspresikan kreativitasnya,” ungkapnya.


Ia berharap, keikutsertaan dalam lomba ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi semata, tetapi juga mampu menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak berkebutuhan khusus untuk terus berkarya dan mencintai budaya daerah.
Dengan semangat Huma Betang yang mengakar kuat, para siswa SKHN 1 Pulang Pisau optimistis dapat memberikan penampilan terbaik sekaligus menginspirasi banyak pihak bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk berprestasi.
(Rzn/Foto: Media Disdik)