PALANGKA RAYA – Kekayaan hayati Kalimantan Tengah kembali mengantarkan generasi mudanya menorehkan prestasi di tingkat internasional. Enam murid dari SMA Negeri 2 Palangka Raya dan SMA Negeri 3 Palangka Raya berhasil meraih Medali Emas (Gold Medal) dalam ajang International Science and Invention Fair (ISIF) ke-8 Tahun 2026 melalui penelitian yang mengangkat potensi tumbuhan lokal Bobah Bebara (Timonius flavescens). Kompetisi yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) tersebut berlangsung pada 12–18 Oktober 2026 di Balai Purnomo Prawiro, Kampus Universitas Indonesia, Depok.

Prestasi membanggakan ini diraih oleh Christian Trysta Fernando, Muhammad Agfahry Wirayana, Catrine Aprilia Lorenza, Deon Alfa Lextrano, dan Rasyid Dwi Nararya Kurnen dari SMAN 2 Palangka Raya, serta Gabriela Caroline C.S. dari SMAN 3 Palangka Raya. Keenam murid tersebut berkolaborasi dalam penelitian berjudul “Integrated Phytochemical Profiling, Antioxidant Activity, and Molecular Docking Analysis of Timonius flavescens (Bobah Bebara) for Female Genital Health”, dengan bimbingan Margaretha Yenitha.
Menariknya, penelitian tersebut berangkat dari pengetahuan tradisional masyarakat pedalaman Desa Kinipan, Kabupaten Lamandau, yang telah mengenal dan memanfaatkan tumbuhan Bobah Bebara secara turun-temurun. Pengetahuan lokal tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi para murid untuk mengeksplorasi potensi tumbuhan melalui pendekatan ilmiah, meliputi kajian profil fitokimia, aktivitas antioksidan, serta analisis komputasional menggunakan metode in silico. Penelitian ini menjadi contoh bagaimana kekayaan alam daerah dapat membuka ruang bagi lahirnya gagasan dan inovasi dari kalangan generasi muda.

Mewakili timnya, Gabriela Caroline C.S., mengungkapkan bahwa kompetisi tersebut memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mempresentasikan hasil penelitian, menjelaskan metode yang digunakan, serta menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh dewan Juri.
“Dalam kompetisi ini, saya bersama Anggota Tim membawa penelitian tentang analisa ilmiah terhadap ekstrak daun Bobah Bebara (Timonius flavescens) yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam mengatasi masalah keputihan pada Wanita, khusunya remaja putri”, ungkap Gabriela, Senin (19/10/2026).

Ia mengaku bersyukur atas pencapaian yang diraih bersama Anggota Timnya. Menurutnya, keberhasilan memperoleh Gold Medal (Medali Emas) bukan hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga pengalaman berharga yang tidak ternilai untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan di bidang penelitian ilmiah.
“Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, penelitian ilmiah kami berhasil meraih Gold Medal. Tentunya ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya pribadi, karena melalui kegiatan ini, saya dapat mengangkat potensi tumbuhan endemik Kalimantan Tengah melalui penelitian ilmiah dalam ajang internasional, yang mana hal ini juga secara tidak langsung membawa nama Provinsi Kalimantan Tengah di tingkat internasional”, tuturnya.

Gabriela juga berharap pencapaian tersebut dapat memberikan motivasi dan mendorong generasi muda Kalimantan Tengah untuk lebih peduli terhadap tumbuhan endemik yang ada di wilayah Kalimantan Tengah dan juga pengetahuan masyarakat lokal dalam pemanfaatannya sebagai bahan obat-obatan alamiah, dan kedepannya nanti berani mengembangkannya menjadi karya yang bermanfaat bagi Masyarakat secara luas.
Baginya, keberhasilan ini bukan semata-mata tentang prestasi dan Gold Medal (Medali Emas) yang diperoleh, melainkan juga proses belajar, pembentukan karakter, keberanian mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman sekaligus sebagai kesempatan dan sarana berharga untuk memperkenalkan potensi daerah yang terkandung di Wilayah Kalimantan Tengah melalui penelitian ilmiah.
“Saya berharap karya ini bisa mendorong generasi muda untuk lebih peduli dan menghargai pengetahuan masyarakat lokal dalam pemanfaatan tumbuhan endemik di Wilayah Kalimantan Tengah sebagai bahan obat-obatan alamiah dan berani mengembangkannya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Pencapaian ini juga menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, berkarya, dan mencoba hal-hal baru ke depannya. Semoga saya bisa terus membawa nama Kalimantan Tengah ke tingkat yang lebih luas melalui prestasi yang membanggakan,” tambahnya.

Guru pembimbing tim peneliti, Margaretha Yenitha, mengapresiasi pencapaian para murid yang mampu membawa penelitian berbasis potensi lokal hingga meraih penghargaan di kompetisi internasional. “Kami sangat bangga atas pencapaian murid-murid yang berhasil meraih medali emas di ajang internasional ISIF 2026. Penelitian ini menjadi bukti bahwa potensi kekayaan hayati Kalimantan Tengah dapat dikembangkan menjadi karya ilmiah yang memiliki nilai dan daya saing. Kami berharap prestasi ini menjadi motivasi bagi murid lainnya untuk terus berinovasi, berani meneliti, dan mengangkat potensi lokal melalui ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, proses penelitian memberikan pengalaman berharga bagi para murid, tidak hanya dalam mengembangkan kajian ilmiah, tetapi juga dalam membangun kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, dan menyampaikan gagasan secara sistematis. Dalam rangkaian ISIF ke-8, keenam murid berkesempatan mempresentasikan hasil penelitian secara langsung di hadapan para juri internasional. Mereka memaparkan latar belakang, tujuan, metode, dan relevansi penelitian, sekaligus menjawab berbagai pertanyaan berdasarkan pemahaman terhadap karya yang dikembangkan. “Hal yang paling penting bukan hanya medali yang berhasil diraih, tetapi juga proses belajar yang dilalui murid-murid. Mereka belajar berpikir kritis, bekerja sama, mempertanggungjawabkan hasil penelitian, serta memahami bahwa kekayaan alam dan pengetahuan lokal dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan inovasi,” tambah Margaretha.

Meski demikian, penelitian Bobah Bebara tersebut masih berada pada tahap eksplorasi potensi ilmiah. Kajian ini belum membuktikan secara klinis bahwa tumbuhan tersebut dapat mencegah atau mengobati keputihan maupun gangguan kesehatan lainnya. Penelitian lanjutan, termasuk pengujian keamanan, efektivitas biologis, dan uji klinis yang sesuai, masih diperlukan sebelum pemanfaatannya dapat direkomendasikan sebagai pengobatan. Kehati-hatian ilmiah ini menjadi bagian penting agar pengembangan potensi tumbuhan lokal dilakukan secara bertanggung jawab.
Keberhasilan enam murid tersebut menjadi kebanggaan bagi sekolah dan Provinsi Kalimantan Tengah. Dari tumbuhan yang dikenal masyarakat pedalaman Desa Kinipan, lahir sebuah gagasan penelitian yang memperoleh pengakuan di tingkat internasional. Prestasi ini sekaligus menunjukkan bahwa potensi daerah tidak hanya terletak pada kekayaan sumber daya alamnya, tetapi juga pada kemampuan generasi muda untuk mempelajari, mengembangkan, dan memperkenalkannya melalui ilmu pengetahuan. Diharapkan, pencapaian ini menginspirasi lebih banyak murid di Kalimantan Tengah untuk berani melakukan penelitian, menjaga kekayaan hayati daerah, dan melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
(Rzn/Foto: Ist)
Baca juga : Meski Baru Berdiri, SMAN 3 Kasongan Langsung Dapat Dukungan Teknologi Digital, Pembelajaran Makin Terbuka
Baca juga : Murid SMAN 3 Palangka Raya Raih Medali Emas Lomba Peneliti Belia 2026 Lewat Inovasi Filtrasi Air Gambut
Baca juga : Angkat Kearifan Lokal Dayak Lewat Riset Herbal, Murid SMKN 4 Palangka Raya Raih Medali Perak ISIF 2026