KASONGAN – Suasana berbeda tampak di Laboratorium Biologi SMAN 1 Kasongan saat sebanyak 30 murid kelas XI mengikuti pembelajaran Biologi berbasis proyek dengan mengolah makanan bergizi seimbang. Kegiatan yang dilaksanakan sebagai bagian dari materi sistem organ pencernaan ini mengajak murid memahami pentingnya pola makan sehat melalui praktik langsung, bukan sekadar teori di dalam kelas.
Dalam pembelajaran tersebut, murid dibagi ke dalam empat kelompok untuk merancang dan mengolah berbagai menu sehat menggunakan bahan pangan lokal, seperti tahu, wortel, daging ayam, jamur kuping, mangga, madu, susu, dan air putih. Setelah memasak, setiap kelompok menghitung kandungan gizi, mempresentasikan manfaat setiap bahan makanan, serta menjelaskan kaitannya dengan kesehatan sistem organ pencernaan. Metode ini merupakan implementasi Project-Based Learning (PjBL) yang dipadukan dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) agar pembelajaran lebih kontekstual dan bermakna.

Guru Biologi Novita Sari Handriani mengatakan inovasi pembelajaran tersebut berawal dari hasil observasi yang menunjukkan sebagian besar murid masih terbiasa mengonsumsi makanan cepat saji dan minuman tinggi gula sehingga pemahaman mereka terhadap pentingnya gizi seimbang masih rendah.
"Selama ini murid mengetahui fungsi organ pencernaan, tetapi belum benar-benar memahami kaitannya dengan kebiasaan makan sehari-hari. Karena itu kami mengubah pembelajaran menjadi pengalaman yang bisa mereka lakukan sendiri, mulai dari merancang menu, mengolah makanan, sampai menganalisis kandungan gizinya," ujar Novita, Senin (13/7/2026).

Pembelajaran tersebut mendapat sambutan positif dari para murid. Salah satu peserta, Intan Rasiana, mengaku lebih mudah memahami materi karena dapat mempraktikkannya secara langsung.
"Biasanya kami hanya membaca materi di buku. Kali ini kami memasak sendiri, menghitung kandungan gizinya, lalu menjelaskan manfaatnya. Belajarnya jadi lebih menyenangkan dan kami lebih paham kenapa harus memilih makanan sehat," ungkap Intan.

Kegiatan ini juga melibatkan kolaborasi dengan guru Prakarya dan PJOK serta didukung pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) dan Platform Kelas Digital Huma Betang sebagai media presentasi, dokumentasi, dan refleksi hasil belajar. Kepala SMAN 1 Kasongan Cuwaca Dewi menilai perpaduan teknologi dan praktik langsung mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif.
"Kami terus mendorong guru memanfaatkan berbagai fasilitas pembelajaran yang telah tersedia untuk menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Ketika teknologi dipadukan dengan aktivitas nyata, murid tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari," katanya.
Melalui pembelajaran inovatif tersebut, keaktifan murid selama proses belajar mengalami peningkatan. Mereka lebih berani berdiskusi, mampu menghubungkan konsep Biologi dengan kehidupan sehari-hari, serta mulai membangun kesadaran untuk menerapkan pola makan yang lebih sehat. Ke depan, hasil proyek ini akan dikembangkan menjadi kampanye edukasi gizi seimbang melalui media digital dan media sosial sekolah agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.