PALANGKA RAYA – Pembelajaran Biologi di Kalimantan Tengah didorong untuk tidak lagi berhenti pada aktivitas menghafal materi di dalam kelas. Guru dan siswa diharapkan mulai membangun pola pikir penelitian (research mindset) dengan menghubungkan ilmu Biologi, teknologi, persoalan lingkungan, serta potensi sumber daya alam yang ada di daerah.

‎Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo saat memberikan sambutan dalam Webinar Transformasi Pembelajaran Biologi Berbasis STEM & Research Mindset, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus membuka peluang kolaborasi antara guru Biologi, peneliti, dan calon peneliti muda di Kalimantan Tengah.

‎

‎Menurut Reza, pembelajaran Biologi tidak cukup jika hanya berorientasi pada hafalan. Guru perlu membawa siswa untuk menganalisis, berpikir kritis, membaca data, melakukan eksperimen, hingga mencari solusi atas persoalan nyata yang ada di tengah masyarakat. Karena itu, pendekatan berbasis masalah (problem based) perlu mulai diperkuat dalam proses pembelajaran.

‎“Biologi ini bukan hanya menghafal. Hubungkan lah Biologi dengan teknologi. Pembelajaran harus mulai mengarah pada kemampuan menganalisis dan berpikir kritis,” tegas Reza. Ia juga menyoroti pentingnya eksperimen sederhana yang berangkat dari persoalan nyata sehingga siswa terbiasa menemukan masalah, mengolah informasi, dan menghasilkan gagasan.

‎

‎Transformasi tersebut, lanjut Reza, juga harus ditopang oleh ekosistem digital yang sudah mulai dibangun Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Pendidikan. Saat ini, sekolah telah diarahkan memanfaatkan papan tulis digital serta Kelas Digital Huma Betang, yang memungkinkan guru saling berbagi modul pembelajaran tanpa dibatasi jarak geografis. Bahkan, pada 2026 platform tersebut telah dilengkapi dengan modul tiga dimensi yang lebih interaktif.

‎“Guru yang ada di pelosok bisa belajar dari modul guru yang ada di perkotaan, begitu pula sebaliknya. Ini yang kita punya melalui Platform Kelas Digital Huma Betang,” ujarnya. Menurutnya, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat cepat menuntut guru untuk terus memperbarui materi dan metode pembelajaran agar siswa tidak mendapatkan pengalaman belajar yang tertinggal.

‎

‎Reza juga menaruh perhatian besar pada keberadaan Research Club di sekolah. Menurutnya, wadah tersebut harus terus dikembangkan secara berkelanjutan agar siswa tidak hanya menjadi pengguna ilmu pengetahuan, tetapi juga mulai terbiasa melakukan penelitian dan menghasilkan inovasi. Ia menyebut sejumlah siswa di Kalimantan Tengah bahkan telah mengikuti kompetisi tingkat nasional dan meraih prestasi setelah melalui proses belajar dan penelitian yang panjang.

‎“Research Club seperti ini harus terus kita bangkitkan. Jangan sampai kita membuat program, kemudian kita tinggalkan begitu saja. Harus ada keberlanjutan dan sistem yang mendukung mereka,” kata Reza. Ia menilai Kalimantan Tengah memiliki modal besar untuk mengembangkan penelitian berbasis potensi lokal, mulai dari pertanian, flora dan fauna, hingga kekayaan alam khas daerah.

‎

‎Ia bahkan mendorong guru dan siswa menjadikan kekayaan alam Kalimantan Tengah sebagai laboratorium pembelajaran. Potensi jagung, nanas, hingga berbagai sumber daya hayati lainnya dapat dikembangkan menjadi objek penelitian dan inovasi. Menurutnya, pendekatan seperti ini membuat pembelajaran Biologi lebih dekat dengan kehidupan siswa sekaligus membuka peluang lahirnya solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

‎“Kita punya daerah yang kaya. Tetapi kalau kita hanya duduk diam dan menunggu, orang lain yang akan masuk dan menikmati Kalimantan Tengah. Ini PR kita bersama. Kita harus lebih maksimal mendukung perkembangan ilmu pengetahuan agar manfaatnya kembali kepada masyarakat,” tegasnya.

‎

‎Reza juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan para peneliti dan jejaring akademik, termasuk menghadirkan narasumber berpengalaman dari tingkat nasional maupun internasional. Menurutnya, kegiatan seperti webinar tersebut tidak semestinya hanya menjadi agenda MGMP Biologi, tetapi dapat direplikasi oleh MGMP mata pelajaran lainnya karena memiliki dampak besar terhadap peningkatan kualitas guru dan peserta didik.

‎Di sisi lain, ia menegaskan bahwa dukungan terhadap kegiatan peningkatan kompetensi guru harus diberikan secara terukur dan berdampak. Dinas Pendidikan, kata Reza, memiliki ruang anggaran untuk mendukung kegiatan pendidikan, namun penggunaannya harus tetap efektif, tidak boros, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat pendidikan.


‎Bagi Reza, transformasi pendidikan tidak mungkin dilakukan hanya oleh pemerintah. Guru, siswa, peneliti, sekolah, dan seluruh pemangku kepentingan harus bergerak bersama. Ia bahkan membuka ruang bagi guru untuk menyampaikan gagasan, masukan, maupun persoalan yang dihadapi di sekolah melalui berbagai kanal komunikasi yang disediakan Dinas Pendidikan.

‎“Jika hanya mengandalkan pemikiran dan tangan seorang Reza Prabowo saja, itu tidak akan cukup. Saya membutuhkan bantuan dari Bapak dan Ibu sekalian.” Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa membangun pendidikan membutuhkan kolaborasi dan keterlibatan banyak pihak.


‎Menutup sambutannya, Reza mendorong MGMP untuk berani menjadi pemantik lahirnya gerakan pembelajaran yang lebih inovatif. Ia juga menyatakan dukungan untuk memperluas jangkauan webinar agar tidak hanya diikuti guru di Kalimantan Tengah, tetapi dapat melibatkan peserta dari provinsi lain di kawasan Kalimantan hingga jejaring MGMP tingkat nasional.

‎“Jangan pernah takut menjadi yang pertama, karena dari situlah akan muncul banyak pengikut.” Pesan itu sekaligus menjadi dorongan agar guru dan siswa Kalimantan Tengah tidak hanya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi berani menjadi bagian dari orang-orang yang menciptakan perubahan.


‎Bagi dunia pendidikan Kalteng, transformasi pembelajaran Biologi bukan sekadar mengganti papan tulis dengan teknologi digital. Lebih jauh, transformasi itu adalah mengubah cara siswa belajar: dari menghafal menjadi menganalisis, dari menerima menjadi meneliti, dan dari sekadar memahami teori menjadi mencari solusi atas persoalan nyata di lingkungan mereka sendiri.

‎“Kalian adalah masa depan Kalimantan Tengah,” pesan Reza kepada para siswa yang mengikuti webinar tersebut.

‎(Rzn/Foto: Media Disdik)