BALI – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan generasi muda Indonesia di kancah internasional. Yumanita Athifah, murid kelas XII SMAS Bina Cita Utama, berhasil meraih dua penghargaan sekaligus dalam ajang International Conference of Young Social Scientists (ICYSS) 2026 yang digelar di Bali, 3-7 September 2026. Pada bidang Ekonomi, Yumanita berhasil meraih Juara 1 atau 1st Place Oral Presentation serta Juara 2 atau 2nd Place Poster Presentation.

Capaian tersebut menjadi prestasi tersendiri bagi Yumanita karena ajang ICYSS 2026 mempertemukan para peneliti muda dari berbagai negara. Dalam kompetisi tersebut, ia harus bersaing bersama 75 peneliti muda dari 12 negara. Kemampuan Yumanita dalam mempresentasikan hasil riset bidang Ekonomi melalui presentasi lisan berhasil mengantarkannya menduduki posisi teratas.

Perjalanan Yumanita menuju kompetisi internasional tersebut juga tidak diperoleh secara instan. Sebelumnya, ia berhasil menjadi Juara 1 bidang Ekonomi dalam seleksi Tim Indonesia yang diselenggarakan CYS Indonesia. Setelah dinyatakan lolos sebagai bagian dari Tim Indonesia, Yumanita menjalani tiga kali pembinaan riset sebagai bagian dari persiapan menghadapi kompetisi internasional.

Selain berhasil menjadi juara pertama pada kategori Oral Presentation, Yumanita juga menunjukkan kemampuannya dalam menyampaikan hasil penelitian melalui media visual. Pada kategori Poster Presentation bidang Ekonomi, ia berhasil meraih Juara 2. Dua penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa proses persiapan yang dijalaninya mampu diterapkan dalam dua format penilaian berbeda.

Yumanita Athifah mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam ICYSS 2026 menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Baginya, pengalaman tersebut bukan hanya tentang penghargaan yang berhasil diraih, tetapi juga mengenai berbagai pengetahuan baru serta pertemanan yang terbentuk selama mengikuti rangkaian kegiatan.

“Kompetisi yang saya ikuti merupakan sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan, bukan hanya karena hasil yang didapatkan namun juga pengalaman dan pertemanan baru yang terbentuk. Banyak sekali hal baru yang saya pelajari selama mengikuti program,” ungkap Yumanita, Jum'at (26/9/2026).

Yumanita juga menegaskan bahwa keberhasilannya meraih Juara 1 bukan semata-mata karena kemampuan dirinya sendiri. Ia menyebut dukungan keluarga, guru pembimbing, kepala sekolah, para guru, dan teman-teman menjadi bagian penting dalam perjalanan hingga berhasil meraih prestasi di tingkat internasional.

“Peraihan Juara 1 bukan karena saya hebat, tapi berkat dukungan dari keluarga, guru pembimbing, Ibu Wulan, Kepala Sekolah, guru-guru, dan teman-teman yang mendorong saya. Semoga hasil ini dapat menjadi kabar baik untuk yang membacanya dan bisa menjadi dorongan semangat untuk teman-teman lain untuk mengikuti lomba-lomba agar wawasan, pertemanan, dan pengalamannya bisa lebih luas dan membawa harum nama Indonesia,” tutur Yumanita.

Sementara itu, Kepala SMAS Bina Cita Utama, Indes Permatahati Parhusip, menyampaikan rasa bangga atas pencapaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Yumanita merupakan hasil dari proses panjang yang telah dijalani selama kurang lebih satu tahun, sekaligus tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak di lingkungan sekolah.

“Seluruh komunitas SMAS Bina Cita Utama bangga atas pencapaian salah satu murid kami, Yumanita Athifah, dalam ajang International Conference of Young Social Scientists (ICYSS) 2026. Kami juga sangat mengapresiasi komitmen, usaha dan dedikasi yang telah ditunjukkan oleh Ibu Hesti Wulandari Aritonang. sebagai guru pembimbing,” ujar Indes Permatahati Parhusip.

Ia menjelaskan, proses pembinaan Yumanita bersama guru pembimbing telah berlangsung sejak Agustus 2025. Selama proses tersebut, murid dan guru pembimbing memperoleh berbagai pengalaman berharga, baik dalam proses penelitian maupun ketika mengikuti kompetisi. Ia berharap pencapaian ini menjadi contoh bahwa dukungan, kesempatan, dan kepercayaan dapat memberikan ruang bagi murid maupun guru untuk berkembang dan mengaktualisasikan potensi yang dimiliki.

ICYSS 2026 sendiri digelar bersamaan dengan World Olympiad of Sustainable Development and Environmental Protection (WOSDEP) 2026 di kampus Universitas Udayana (Unud), Bali. Kegiatan yang berlangsung pada 3–7 September 2026 tersebut menjadi ruang pertemuan peneliti belia dari berbagai negara untuk mempresentasikan hasil penelitian sekaligus bertukar pengetahuan dan pengalaman.

Sebanyak 75 pelajar dari 12 negara ambil bagian dalam ICYSS 2026. Mereka berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Macau, Mongolia, Belanda, Guam, Serbia, Slovenia, Rusia, dan Romania. Para peneliti belia tersebut mempresentasikan 53 penelitian yang mencakup berbagai bidang ilmu sosial dan lingkungan, antara lain Ekonomi, Geografi, Psikologi, Sosiologi, Sejarah, serta Lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung di Lecture Building Universitas Udayana tersebut merupakan hasil kolaborasi Center for Young Scientists dengan Universitas Udayana. Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, I Ketut Adnyana yang menekankan pentingnya kegiatan ilmiah yang melibatkan peneliti belia sebagai ruang pengembangan talenta muda di bidang penelitian dan inovasi.

Direktur Center for Young Scientists, Monika Raharti, juga menilai pertemuan peneliti belia lintas negara penting untuk memperluas wawasan sekaligus membuka peluang kolaborasi pada masa mendatang. Para peserta tidak hanya membawa hasil penelitian dari negaranya masing-masing, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman sehingga dapat menjadi awal terbentuknya jejaring kolaborasi penelitian antar pelajar dari berbagai negara.

Prestasi yang diraih Yumanita juga menjadi bagian dari keberhasilan Tim Indonesia yang terdiri dari enam murid. Seluruh perwakilan Indonesia berhasil memperoleh penghargaan dalam ajang tersebut, dengan tiga peserta meraih medali emas pada bidang Ekonomi, Sosiologi, dan Psikologi.

Selain Yumanita yang meraih medali emas bidang Ekonomi, Calvin Nicholas dari SMA St Laurensia meraih medali emas bidang Sosiologi melalui penelitian berjudul Global-Tasting Street Coffee: An Analysis of Glocalization Practices and Social Class in the “STARLING” Phenomenon. Calvin juga meraih Juara 1 Poster Presentation.

Medali emas lainnya diraih Christian Julius Hidajat dari SMAK 1 BPK Penabur Bandung pada bidang Psikologi melalui karya VOKASIO: A Metaverse-Based Interactive Media to Enhance Career Maturity Among Senior High School Students. Christian juga meraih Juara 2 Poster Presentation.

Sementara itu, Fanlicko Chandra dari SMAK 1 BPK Penabur Bandung meraih medali perak pada bidang Psikologi melalui penelitian From Heartbeats to Headspace: When the Heart Speaks Louder Than the Mind. Fanlicko juga berhasil meraih Juara 1 Poster Presentation.

Adapun Ni Kadek Cantika Ayu Pradnyani dan Dewa Ayu Cetta Nirwasita dari SMAN 3 Denpasar meraih medali perunggu bidang Sosiologi melalui penelitian A Study on the Social Phenomenon Related to 'Self-Diagnosing Mental Illness Through TikTok Media. Keduanya juga berhasil meraih Juara 2 Poster Presentation.

Khusus penelitian yang dibawakan Yumanita, riset tersebut mengangkat karya berjudul Weaving Culture into Value: How HANDEP's Social Enterprise Shapes Consumer Willingness to Pay for Dayak Rattan Fashion Crafts. Penelitian ini membahas bagaimana HANDEP atau HANDmade Ethical Products, sebuah social enterprise yang mendesain dan memproduksi produk fashion dari rotan, mampu membangun loyalitas pelanggan dan pengrajin meskipun produk memiliki harga lebih tinggi.

Melalui penelitian tersebut, Yumanita menunjukkan bagaimana nilai kultural dan ekonomi dapat memengaruhi konsumen maupun pengrajin untuk memahami serta menghargai signifikansi budaya yang melekat pada produk kerajinan rotan. Penelitian tersebut sekaligus mengangkat potensi budaya lokal dalam konteks ekonomi kreatif dan keberlanjutan.

Selain mengikuti konferensi melalui pameran poster ilmiah dan presentasi lisan di hadapan dewan juri, para peneliti belia juga mendapatkan pengalaman lintas budaya selama berada di Bali. Peserta dari berbagai negara berkesempatan saling mengenal budaya masing-masing sekaligus menikmati lingkungan alam Bali.

Salah satu rangkaian kegiatan dilakukan dengan mengunjungi Tirta Gangga, tempat para peserta dapat bertukar pengalaman budaya sembari menikmati kawasan sumber mata air tersebut. Pengalaman tersebut melengkapi perjalanan ICYSS-WOSDEP 2026 yang tidak hanya menjadi ajang kompetisi penelitian, tetapi juga ruang pembelajaran, pertukaran budaya, dan pengembangan jejaring antar pelajar.

Prestasi Yumanita Athifah di ICYSS 2026 menjadi catatan membanggakan bagi SMAS Bina Cita Utama sekaligus menunjukkan bahwa murid dari daerah memiliki peluang untuk berkompetisi di forum internasional. Dengan dukungan, pembinaan, dan kesempatan yang tepat, minat dan kemampuan murid di bidang penelitian dapat terus berkembang hingga mampu tampil dan berprestasi di tingkat global sekaligus membawa nama Indonesia melalui karya dan inovasi yang berangkat dari potensi lokal.

(Rzn/Foto: Media Disdik)