BUNTOK – Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tengah kondisi kabut asap dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian serius Kepala Dinas Pendidikan Kalteng Muhammad Reza Prabowo. Reza mengaku berada dalam posisi dilematis, karena di satu sisi keselamatan murid harus menjadi prioritas, namun di sisi lain PJJ yang berlangsung terlalu lama berpotensi menimbulkan penurunan capaian belajar atau learning loss.

‎“Saya dilema, jangan paksakan murid turun ke sekolah, karena risikonya banyak sekali. Misalnya terjadi hal yang tidak diinginkan saat perjalanan menuju sekolah atau sebaliknya. Belum lagi di jalan kena asap, takutnya hal itu justru membahayakan murid-murid kita,” ujar Reza saat bertemu MKKS Buntok, usai mengikuti agenda pembagian bantuan pangan kepada masyarakat di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Senin (21/9/2026).

‎Meski demikian, Reza meminta sekolah tidak menganggap PJJ sebagai kondisi yang bisa dibiarkan tanpa strategi. Ia mengingatkan adanya risiko learning loss, terutama jika murid mengalami kendala mengikuti pembelajaran daring. “Kalau lama PJJ seperti ini kita khawatir juga dengan lost learning. Seperti yang pernah saya kunjungi di Kelas Digital Huma Betang, kelas itu harusnya 36 murid, tapi yang hadir cuma 6 orang. Yang lainnya tidak hadir karena kendala sinyal di daerah mereka, akhirnya kasihan yang 30 murid lainnya tidak bisa belajar, ketinggalan pelajaran,” jelasnya.

‎Menurut Reza, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama karena keberlanjutan pembelajaran turut menentukan capaian pendidikan murid. Ia bahkan mengingatkan bahwa apabila pembelajaran tidak berjalan optimal dalam waktu panjang, kemampuan literasi dan numerasi siswa berpotensi ikut terdampak. Karena itu, sekolah diminta terus mencari pola pembelajaran yang dapat menjangkau siswa sesuai kondisi wilayah masing-masing.

Di sisi lain, Reza meminta sekolah memanfaatkan masa PJJ untuk melakukan langkah-langkah pencegahan karhutla di lingkungan satuan pendidikan. Salah satunya dengan membersihkan semak belukar dan material mudah terbakar yang berada di sekitar sekolah. “Saat PJJ seperti ini, tolong semak belukar di sekitar sekolah dibersihkan. Kalau sekolah ada semak belukar, pepohonan yang kekeringan, tanahnya kering, itu rawan sekali terbakar atau api merembet ke daerah itu sehingga menjalar ke sekolah,” tegasnya.

‎Reza menekankan bahwa keselamatan warga sekolah dan keberlangsungan proses belajar harus berjalan beriringan. PJJ bukan berarti aktivitas sekolah berhenti, tetapi menjadi momentum untuk memastikan lingkungan sekolah aman dari ancaman karhutla sekaligus menyiapkan strategi agar murid tetap memperoleh pembelajaran. Dengan pendekatan tersebut, sekolah diharapkan mampu menghadapi situasi darurat tanpa mengorbankan keselamatan maupun hak murid untuk terus belajar.

(Rzn/Foto: Media Disdik)