PALANGKA RAYA – Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah memastikan pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi jenjang SMA, SMK, dan SKH di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak bersifat permanen. Kebijakan yang mulai diterapkan 31 Agustus 2026 tersebut akan dievaluasi setiap tiga hari dengan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara dan kondisi masing-masing satuan pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo mengatakan, evaluasi berkala dilakukan untuk memastikan kebijakan pembelajaran tetap sesuai dengan kondisi di lapangan. Jika dalam tiga hari kondisi kabut asap masih belum membaik, pelaksanaan PJJ dapat diperpanjang.
“PJJ ditetapkan sejak 31 Agustus 2026 dan dievaluasi selama tiga hari sekali. Kalau nanti di tiga hari ke depan ternyata masih kabut asap, maka ini akan ada perpanjangan dan itu menyesuaikan sekolah masing-masing,” ujar Reza saat ditemui awak media seusai monitoring pelaksanaan PJJ dari Aula Berkah Disdik Kalteng, Senin (31/8/2026).

Menurutnya, penentuan sekolah yang perlu melaksanakan PJJ tidak hanya berdasarkan kondisi kabut asap secara umum, tetapi melihat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di wilayah masing-masing. “Sekolah yang terdampak kita lihat berdasarkan ISPU,” jelasnya.
Reza menjelaskan, data ISPU menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan pola pembelajaran. Data tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam Kelas Digital Huma Betang, sehingga kondisi sekolah di berbagai wilayah dapat dipantau secara digital.
“Data ISPU itu kita alirkan datanya ke Kelas Digital, sehingga dari Kelas Digital itu bisa kelihatan sekolah-sekolah yang kondisinya hitam, merah, dan hijau,” katanya.

Dengan sistem tersebut, sekolah dapat menyesuaikan pola pembelajaran berdasarkan kondisi kualitas udara di wilayahnya. Sekolah yang berada pada kategori yang berisiko akan diarahkan untuk menerapkan PJJ, sedangkan sekolah yang kondisi udaranya masih memungkinkan dapat mempertimbangkan pembelajaran tatap muka.
Reza menyebut, berdasarkan pemantauan yang dilakukan pihaknya hingga Minggu malam, hanya terdapat beberapa wilayah yang kondisi ISPU-nya masih berada dalam kategori aman.
“Baru per tadi malam kita lihat hanya ada dua yang kondisinya hijau. Kalau tidak salah di Seruyan dan Sukamara,” ungkapnya.

Sementara wilayah lainnya memiliki kondisi kualitas udara yang lebih beragam. Reza menyebut terdapat wilayah yang masuk kategori hitam, oranye, maupun kategori lainnya sehingga penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.
Ia juga memberikan contoh kondisi di Dadahup. Meskipun kabut asap masih terlihat tipis, satuan pendidikan di wilayah tersebut memilih tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka setelah mempertimbangkan kondisi ISPU dan hasil kesepakatan antara guru serta murid.
“Seperti di Dadahup masih melaksanakan tatap muka walaupun kabutnya masih tipis-tipis. Mereka memilih hasil kesepakatan dari siswa dan guru, tetap melaksanakan secara tatap muka. Karena mereka juga melihat kondisi ISPU di sana masih memungkinkan,” jelas Reza.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan PJJ tidak diterapkan secara seragam kepada seluruh sekolah. Setiap satuan pendidikan perlu melihat kondisi aktual di wilayahnya, terutama kualitas udara yang menjadi salah satu dasar pertimbangan.
Di sisi lain, Disdik Kalteng tetap meminta sekolah yang berada di wilayah dengan kualitas udara tidak sehat untuk mengutamakan keselamatan murid. PJJ menjadi pilihan agar proses pendidikan tetap berjalan tanpa mengharuskan siswa berada di luar rumah saat kondisi udara berisiko.

Reza menegaskan, pelaksanaan PJJ juga harus dibarengi dengan pengawasan agar murid tetap mendapatkan pembelajaran. Sekolah diminta memastikan guru tetap memberikan materi, baik melalui pembelajaran daring maupun modul dan tugas bagi wilayah yang mengalami kendala jaringan internet.
Ia berharap kondisi karhutla di Kalimantan Tengah segera tertangani sehingga kualitas udara kembali membaik dan kegiatan pembelajaran dapat berjalan normal.
“Kita mohon doa dan dukungan masyarakat Kalimantan Tengah agar karhutla bisa segera tertangani sehingga mengurangi dampak adanya kabut asap di Kalimantan Tengah,” pungkas Reza.
(Rzn/Foto: Media Disdik)
Baca juga : PJJ Saat Karhutla Dikawal Kelas Digital Huma Betang, Disdik Kalteng Pantau Kondisi Sekolah Berbasis ISPU
Baca juga : Tak Ada Internet, Siswa di Barito Timur Tetap ke Sekolah Saat PJJ, Kadisdik Beri Arahan
Baca juga : Kadisdik Kalteng Tegaskan PJJ Saat Karhutla Punya Dasar Hukum, Mengacu SE Kemendikdasmen dan ISPU