PALANGKA RAYA – Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah tidak hanya mengandalkan pembelajaran secara daring, tetapi juga diperkuat dengan sistem pemantauan digital. Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah memanfaatkan Kelas Digital Huma Betang untuk memantau kondisi satuan pendidikan sekaligus memastikan proses belajar peserta didik tetap berjalan selama PJJ.


‎Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo mengatakan, Kelas Digital Huma Betang menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk mengontrol pelaksanaan pembelajaran selama kondisi karhutla. Melalui sistem tersebut, berbagai informasi terkait kondisi sekolah dapat dipantau secara virtual.

‎“Dan dikontrol melalui Kelas Digital Huma Betang. Di dalam Kelas Digital Huma Betang telah banyak modul-modul dan ada modul tiga dimensi juga. Pemantauannya kita lakukan melalui virtual,” ujar Reza saat ditemui awak media seusai monitoring pelaksanaan PJJ dari Aula Berkah Disdik Kalteng, Senin (31/8/2026).

‎Menurutnya, pelaksanaan PJJ harus tetap memastikan murid memperoleh materi pembelajaran. Karena itu, perubahan pola belajar dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh tidak boleh diartikan sebagai libur sekolah.

‎“Kita melakukan pemantauan dengan maksud supaya PJJ ini bisa digelar. Jangan sampai PJJ namun adik-adiknya tidak belajar,” tegasnya.

‎Dalam menentukan sekolah yang perlu menerapkan PJJ, Disdik Kalteng juga menggunakan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sebagai salah satu acuan. Kondisi kualitas udara di masing-masing wilayah menjadi pertimbangan dalam menentukan pola pembelajaran yang paling aman bagi peserta didik.

‎Reza menjelaskan, data ISPU tersebut kemudian dapat dipantau melalui Kelas Digital Huma Betang. Kondisi sekolah berdasarkan wilayah akan terlihat melalui indikator tertentu sehingga satuan pendidikan dapat menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi udara di daerahnya.

‎“Sekolah yang terdampak kita lihat berdasarkan ISPU. Data ISPU itu kita alirkan datanya ke Kelas Digital Huma Betang, sehingga dari Kelas Digital itu bisa kelihatan sekolah-sekolah yang kondisinya hitam, merah, dan hijau,” jelasnya.

‎Dengan sistem tersebut, sekolah yang berada pada kondisi udara yang tidak memungkinkan untuk pembelajaran tatap muka dapat diarahkan melaksanakan PJJ. Sementara sekolah dengan kondisi udara yang masih memungkinkan dapat menyesuaikan pembelajaran berdasarkan kondisi ISPU dan kesepakatan satuan pendidikan.

‎Namun, Reza mengakui bahwa penerapan PJJ di sejumlah daerah masih menghadapi tantangan, terutama persoalan akses internet. Kondisi geografis Kalimantan Tengah membuat tidak seluruh sekolah memiliki akses jaringan yang memadai untuk melaksanakan pembelajaran daring secara optimal.

‎Karena itu, Disdik Kalteng tidak memaksakan seluruh sekolah menggunakan metode pembelajaran yang sama. Apabila pembelajaran daring terkendala jaringan internet, guru dapat memberikan modul dan tugas kepada peserta didik agar proses pembelajaran tetap berlangsung tanpa mengharuskan siswa datang ke sekolah.


‎“Kalau tidak ada internet maka modulnya yang diberikan, sehingga guru bisa memberikan tugas,” kata Reza.

‎Ia menegaskan, keselamatan peserta didik tetap menjadi prioritas dalam penerapan PJJ. Kebijakan tersebut juga akan terus dievaluasi secara berkala dengan melihat perkembangan kondisi karhutla dan kualitas udara di masing-masing wilayah. “PJJ tiga hari dulu, baru nanti kita evaluasikan,” pungkasnya.

‎(Rzn/Foto: Media Disdik)