PALANGKA RAYA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dibawah kepimpinan Gubernur Agustiar Sabran melalui Dinas Pendidikan terus memperkuat pengawasan proses pembelajaran di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tidak hanya memastikan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tetap berjalan, Disdik Kalteng kini memanfaatkan sistem digital untuk memantau aktivitas belajar, kondisi kualitas udara, bahan ajar guru hingga kesehatan murid secara lebih terintegrasi.

‎Melalui Kelas Digital Huma Betang, kondisi pembelajaran di berbagai satuan pendidikan dapat dipantau secara berkala. Berdasarkan dashboard pemantauan pada Selasa (15/9/2026), tercatat 152 kelas virtual sinkronus melalui Zoom/Google Meet, 100 modul ajar digital dan BDR guru, serta 18 sekolah yang melaksanakan pembelajaran tatap muka normal di zona aman. Dashboard tersebut juga memuat rekapitulasi 32 data kasus kesehatan/ISPA.


‎Sistem ini tidak berhenti pada pemantauan kegiatan belajar. Data kualitas udara juga ditampilkan berdasarkan satuan pendidikan dan wilayah masing-masing. Sejumlah sekolah pada dashboard tercatat memiliki nilai ISPU yang masuk kategori berbahaya, bahkan terdapat sekolah dengan angka ISPU lebih dari 1.000. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan moda pembelajaran yang lebih aman bagi peserta didik.

‎Menariknya, sekolah juga dapat terlihat aktivitas digitalnya secara langsung. Pada daftar kelas virtual, sejumlah guru dan satuan pendidikan tercatat sedang melaksanakan pembelajaran melalui Kelas Digital Huma Betang, lengkap dengan mata pelajaran, nama guru, jadwal, serta akses ruang virtual. Artinya, PJJ tidak lagi sekadar kebijakan untuk memindahkan kegiatan belajar dari sekolah ke rumah, tetapi mulai diarahkan menjadi pembelajaran yang terpantau, terdokumentasi dan tetap produktif.

‎Di sisi lain, dashboard juga menyediakan ruang bagi guru untuk berbagi modul ajar digital dan bahan belajar. Materi dari berbagai mata pelajaran telah tercatat, mulai dari Geografi, Pendidikan Agama, Matematika, Bahasa Inggris, PPKn, Fisika, Coding hingga Seni Budaya. Kehadiran bahan ajar tersebut menjadi bagian penting agar murid tetap memperoleh materi pembelajaran meskipun tidak berada di ruang kelas.


‎Kadisdik Kalteng Muhammad Reza Prabowo menegaskan bahwa keselamatan murid tetap menjadi prioritas dalam pelaksanaan pembelajaran selama kondisi karhutla. “Pembelajaran harus tetap berjalan, tetapi keselamatan dan kesehatan anak-anak kita adalah yang utama. Karena itu, setiap keputusan pembelajaran harus melihat kondisi wilayah, kualitas udara dan situasi kesehatan siswa,” ucap Reza Prabowo.

‎Pemanfaatan teknologi tersebut menunjukkan bahwa penanganan pendidikan di tengah bencana tidak harus membuat proses belajar terhenti. Kelas Digital Huma Betang menjadi salah satu instrumen untuk menjembatani sekolah, guru dan murid, sekaligus membantu pemerintah melihat kondisi pendidikan secara lebih cepat berdasarkan data. Dengan pendekatan ini, sekolah di zona aman dapat tetap melaksanakan pembelajaran normal, sementara sekolah yang berada di wilayah dengan kualitas udara buruk dapat menyesuaikan pembelajaran melalui PJJ.

(Rzn/Foto: Media Disdik)