KATINGAN – Di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi perhatian di Kalimantan Tengah, sejumlah sekolah tetap melakukan langkah antisipasi untuk menjaga keamanan lingkungan pendidikan. Meski pembelajaran dapat dilaksanakan dari rumah sesuai kondisi kabut asap, guru piket tetap bergantian menjaga sekolah guna mengantisipasi potensi kebakaran di lingkungan sekolah.

Langkah tersebut terlihat di sejumlah satuan pendidikan, di antaranya SMAN 1 Katingan Tengah yang melaksanakan piket siang, serta sekolah di wilayah Pulau Malan yang melakukan piket malam. Selain menjaga keamanan lingkungan sekolah, petugas juga melakukan pembasahan lahan sebagai upaya pencegahan agar area sekolah tidak mudah terdampak kebakaran. Dokumentasi kegiatan pada 21–22 Oktober 2026 menunjukkan upaya tersebut tetap dilakukan, termasuk pada malam hari.


Piket guru menjadi salah satu bentuk kepedulian dan tanggung jawab bersama dalam menjaga fasilitas pendidikan di tengah situasi karhutla. Guru yang bertugas melakukan pemantauan kondisi lingkungan sekolah, memastikan area sekitar tetap aman, serta mengambil langkah antisipasi apabila ditemukan potensi bahaya. Upaya ini diharapkan dapat meminimalkan risiko kebakaran yang dapat mengancam bangunan dan sarana pendidikan.

Di sisi lain, guru juga berharap pelaksanaan pembelajaran dari rumah dapat menyesuaikan dengan kondisi kabut asap dan faktor kesehatan masing-masing. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk melindungi guru maupun murid dari paparan asap, terutama bagi mereka yang rentan atau memiliki riwayat gangguan kesehatan yang dapat diperburuk oleh kualitas udara yang buruk.


Meski demikian, pelaksanaan pembelajaran dari rumah tetap perlu diimbangi dengan pengaturan piket sekolah secara bergiliran. Sejumlah guru yang kondisi kesehatannya memungkinkan berinisiatif tetap hadir untuk menjaga sekolah, dengan jumlah petugas yang dapat disesuaikan, misalnya empat hingga lima orang per hari. Pengaturan ini memungkinkan kegiatan pemantauan dan pengamanan sekolah tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan tenaga pendidik.

Kegiatan piket siang, piket malam, hingga pembasahan lahan yang dilakukan di sejumlah sekolah tersebut menjadi contoh langkah antisipatif di tengah situasi karhutla. Keselamatan guru dan murid tetap menjadi prioritas, sementara keamanan lingkungan sekolah juga harus dijaga bersama. Diharapkan, sinergi seluruh warga sekolah dapat membantu mencegah kebakaran sekaligus memastikan sarana pendidikan tetap aman hingga kondisi kembali kondusif.

(Rzn/Foto: Media Disdik)