KATINGAN – Transformasi pendidikan di Kalimantan Tengah mulai dirasakan hingga wilayah paling terpencil. Kehadiran Starlink, Tenaga Surya, serta Interactive Flat Panel (IFP) membuka akses baru bagi guru dan murid di sekolah-sekolah pedalaman yang selama bertahun-tahun menghadapi keterbatasan jaringan komunikasi, listrik, hingga akses jalan.
Kepala SMAN 1 Petak Malai, Muhammad Jumani, menjadi salah satu yang merasakan langsung perubahan tersebut. Selama 12 tahun bertugas di wilayah paling ujung Hulu Sungai Samba, Katingan, ia mengaku sekitar 10 tahun harus berjuang mencari sinyal, bahkan harus mendaki bukit hanya untuk berkomunikasi dengan keluarga maupun mendapatkan bahan ajar.
“10 tahun kami harus berjuang mencari sinyal, buru-buru untuk mencari bahan ajar. Sekadar untuk menelepon dan menghubungi sanak keluarga di tempat asal saja harus mendaki bukit,” ungkap Muhammad Jumani, Rabu (9/9/2026).

Kini, kondisi tersebut berubah. Menurut Jumani, bantuan Starlink membuat komunikasi dan akses informasi jauh lebih mudah. Guru dapat mencari bahan pembelajaran sekaligus menyelesaikan berbagai kebutuhan administrasi tanpa harus meninggalkan sekolah. Kehadiran listrik tenaga surya juga memungkinkan teknologi pembelajaran digital digunakan secara lebih optimal.
“Setiap kelas kini bisa belajar dengan IFP. Dulu pembelajaran dengan LCD proyektor saja hanya sesekali waktu karena tidak adanya listrik. Walaupun kami masih terisolir dari segi akses jalan, dengan adanya sinyal Starlink dan Tenaga Surya, sekolah kami sudah jauh bertransformasi sejak dua tahun terakhir,” tuturnya.

Dukungan terhadap transformasi pendidikan tersebut juga dirasakan Kepala SMAN 1 Katingan Hulu, Dina Fahdiani. Ia menilai berbagai program yang dijalankan jajaran Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, di bawah kepemimpinan Kadisdik Kalteng Muhammad Reza Prabowo, memberikan dampak positif bagi guru maupun murid, terutama dalam membuka akses pendidikan dan ruang bagi siswa untuk berkembang.
“Banyak dampak positif yang kami rasakan dari program-program Pak Kadis, baik bagi guru maupun murid. Akses pendidikan semakin terbuka, kesejahteraan guru mendapat perhatian, dan murid semakin memiliki ruang untuk berkembang serta berprestasi,” kata Dina.

Apresiasi juga disampaikan Dina Fahdiani kepada Kadisdik Kalteng agar tetap kuat menjalankan berbagai langkah pembenahan pendidikan. Ia berharap semangat tersebut terus menjadi energi bagi para guru di seluruh pelosok Kalimantan Tengah.
“Tetap kuat dan semangat, Pak. Jangan biarkan berbagai komentar melemahkan langkah visioner Bapak. Semangat Bapak adalah energi bagi kami. Langkah visioner Bapak adalah inspirasi untuk kami terus berupaya,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala SMAN 3 Sampit, Mulyadi, yang telah mengabdi selama 24 tahun di daerah, mengaku merasakan perubahan besar dalam hal akses komunikasi di sekolah-sekolah pedalaman. Menurutnya, kondisi yang dahulu menjadi kesenjangan antara sekolah di daerah dan perkotaan kini perlahan semakin teratasi.
“Alhamdulillah luar biasa. Ulun 24 tahun tugas di daerah juga mengalami hal yang sama dengan teman-teman. Saat ini di pedalaman sudah sama rasanya di kota, komunikasi bisa lancar. Terima kasih Pak Kadis dan Pak Gubernur,” ungkap Mulyadi.
(Rzn/Foto: Media Disdik)
Baca juga : Gubernur Kalteng Agustiar Sabran Lunasi 2.565 UKT Mahasiswa dari 25 Perguruan Tinggi
Baca juga : Sekolah Swasta Tak Lagi Merasa “Anak Tiri”, SMA Garing Tarantang Apresiasi Perhatian Disdik Kalteng
Baca juga : PJJ di Tengah Kabut Asap, Disdik Kalteng Soroti Tantangan SMK yang Dominan Praktik