Palangka Raya – Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi
Pembelajaran dinilai menjadi harapan baru bagi Kalimantan Tengah
dibawah kepemimpinan Gubernur Agustiar Sabran untuk mempercepat pemerataan
kualitas pendidikan hingga ke wilayah pedesaan dan pelosok pedalaman.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Muhammad Reza
Prabowo menegaskan, penguatan sarana pendidikan dan pemanfaatan
teknologi harus mampu menjembatani kesenjangan kualitas pembelajaran antara
sekolah di perkotaan, pedesaan hingga wilayah pelosok pedalaman.
“Program revitalisasi dan digitalisasi pendidikan ini adalah harapan baru bagi kita, khususnya anak-anak pedalaman di Kalimantan Tengah. Di mana dengan adanya program revitalisasi dan digitalisasi itu bisa menyamaratakan kualitas pembelajaran antara yang di kota, pedesaan, maupun pedalaman,” ujar Reza, Selasa (8/9/2026).

Menurut Reza, transformasi
pendidikan tidak cukup hanya dilakukan melalui pembangunan dan perbaikan fisik
sekolah. Digitalisasi pembelajaran menjadi bagian penting untuk memastikan
peserta didik di daerah yang memiliki keterbatasan sumber daya tetap memperoleh
pengalaman belajar yang berkualitas.
Komitmen tersebut kemudian
diwujudkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui pengembangan Kelas
Digital Huma Betang. Program ini dirancang untuk membantu mengatasi
kesenjangan ketersediaan guru antara wilayah perkotaan dan daerah pedesaan
maupun pedalaman melalui pemanfaatan pembelajaran digital dan hibrida.
Melalui Kelas Digital Huma Betang yang didukung konektivitas internet perangkat starlink dan panel surya yang diberikan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, proses pembelajaran dapat menjangkau peserta didik di lokasi yang berbeda. Skema tersebut juga membuka peluang bagi sekolah untuk mendapatkan pembelajaran dari guru yang sebelumnya sulit tersedia di wilayah tertentu.

Bagi Kalteng yang memiliki
wilayah geografis luas, pendekatan tersebut menjadi penting. Teknologi tidak
hanya dipandang sebagai perangkat pembelajaran, tetapi juga sebagai jembatan
pemerataan kesempatan belajar bagi anak-anak di daerah yang selama ini
menghadapi keterbatasan akses terhadap tenaga pendidik dan sumber pembelajaran.
Program tersebut sejalan dengan kebijakan nasional. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa pada 2025 program revitalisasi telah menjangkau 16.167 satuan pendidikan. Pada tahun yang sama, pemerintah juga mendistribusikan Interactive Flat Panel (IFP) ke sekolah-sekolah sebagai bagian dari percepatan digitalisasi pembelajaran.

Abdul Mu’ti mengatakan
revitalisasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas sekolah, tetapi
juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman,
nyaman, humanis, inklusif dan partisipatif.
“Alhamdulillah tahun 2025 revitalisasi 16.167 satuan pendidikan berjalan dengan lancar, demikian pula distribusi IFP ke sekolah-sekolah,” ujarnya.

Sementara itu, pengalaman dari
Kabupaten Intan Jaya, Papua, menunjukkan bahwa digitalisasi pendidikan tetap
membutuhkan penyesuaian dengan kondisi daerah. Keterbatasan jaringan internet
dan ketersediaan listrik menjadi tantangan yang perlu diperhatikan agar
teknologi yang diberikan benar-benar dapat digunakan oleh satuan pendidikan.
Bagi Kalimantan Tengah, pengalaman tersebut semakin memperkuat pentingnya membangun ekosistem digital pendidikan yang sesuai dengan karakteristik wilayah. Revitalisasi memperbaiki ruang dan fasilitas belajar, sementara digitalisasi membuka akses pembelajaran yang lebih luas.

Reza menegaskan, sinergi antara
kebijakan pemerintah pusat dan inovasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah
diharapkan mampu mempercepat terwujudnya pendidikan yang lebih merata.
Melalui Kelas Digital Huma Betang, dukungan starlink dan panel surya, serta penguatan sarana dan prasarana pendidikan, Kalteng terus mendorong agar jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang bagi anak-anak pedalaman untuk mendapatkan kualitas pembelajaran yang setara dengan peserta didik di perkotaan.
(Rzn/Foto: Media Disdik)